bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Jumat, 17 Februari 2012

DISKRIMINASI YANG MENARIK




Oleh : Andes Nirvana Imandika
Penuh dengan tawa. Penuh dengan keindahan. Penuh dengan keterpurukan. Penuh dengan segala rasa yang bisa kita rasakan kemudian harinya. Itulah indahnya segala keindahan yang kita rasakan saat kita memasuki masa-masa sekolah. Dengan segala jurusan yang seharusnya adalah sama. Seperti yang selalu saya katakan dan selalu saya kumandangkan ketika saya mendukung dan selalu men-support teman-teman saya “AKU,KAMU dan DIA adalah sama. Tak ada yang harus ditindas, tak ada yang seharusnya dikucilkan, tak ada yang seharusnya diasingkan, dan tak ada yang seharusnya didiskriminasi.
            Masa sekolah yang indah. Masa sekolah yang bahagia. Masa sekolah yang harusnya dalam suka cita. Perjuangan memang perlu. Pertahankan dan berbuat menjadi lebih baik dan semakin berkembang, apakah itu harus dan selalu menjadi beban dalam menjurus kedalam dunia pendidikan. Bidang lain saja sudah dikembangkan oleh system, mengapa harus berfikir bagaimana ada dan tiada bidang tersebut harus dijunjung oleh kaum tertindas?
            Pertanyaan yang hanya saya simpan dalam hati dan dalam tumpahan tinta berbentuk tulisan ini yang bisa saya tandakan dan saya buat sebagai wadah saya. Dan saya tetap berterimakasih dengan kertas-kertas yang telah merelakan hatinya untuk saya coret-coret dengan sesuatu yang mungkin tidak berguna. Terimakasih kertas yang telah menemani hidup saya dan peristiwa-peristiwa yang ada dalam Bahasa.
            Rasa yang memang seharusnya indah. Rasa yang seharusnya bahagia akan kejadian-kejadian yang memang untuk dirasa indah. Dan rasa yang memang seharusnya selalu dan senantiasa memberikan kita motivasi dan dukungan kini hampir punah dalam jurusan saya. Bahasa adalah bagian dari hidup saya. Bahasa adalah jiwa kedua saya dan Bahasa adalah jurusan yang menurut saya sangat sempurna. Tetapi, kadang saya merasakan bahwa keindahan bahasa akan orang-orang terdekat dari bahasa kini hampir menghilang bagai diterpa badai yang menggelinjing beberapa dan hampir seluruhnya.
            Sekolah adalah sarana terpenting dalam menempuh dunia luar yang akan membuka kita pada jati diri kita. Pendidikan tidak seharusnya memihak, pendidikan tidak seharusnya mendelusupkan, dan pendidikan tidak seharusnya memandang sebelah mata bidang yang telah ditetapkan. Tidak seharusnya diasingkan dari bagian yang seharusnya ada.
            Ada memang ada. Status terbukti memang terbukti. Hanya saja sandiwara hebat dan professional yang menutupi bidang yang seharusnya tidak ditutupkan. Anggap saja angin lalu. Ya, mungkin semua itu akan terucap ketika kita mencoba untuk bertanya kenapa diskriminasi itu ada. Dan memang takkan ada kejujuran dari pertanyaan tersebut. Dan memang mencari kejujuran dari segala kejadian itu akan tertutup dengan kata-kata dan pembual itu pasti akan cerdik.
             Diskriminasi jurusan. Sudah terlalu mengganggu saya dalam karya saya. Ketika saya membuat cerpen, ketika saya membuat puisi dan ketika saya merenung, hal itu yang selalu terbayang dalam fikiran saya. Diskriminasi membuat hidup saya hampa akan segala tangan yang seharusnya selalu bekerja hingga jantung saya berdetak sekencang mungkin. Tetapi apa? Diskriminasi yang membuat saya terhambat karena tidak sedikitpun orang yang dapat melirik karya-karya yang seharusnya dapat diapresiasi secara kritis.
            Putus asa dan harapan rapuh tak ada dalam pikiran saya. Mencoba selalu membakar hati dan tubuh menjadi lebih bersemangat untuk kembali memompa darah dan kembali menjadikan nafas yang indah. Seperti itu yang dapat selalu menjadikan diri kita agar tidak pesimis. Dan tak ada kata negative. Selalu berusaha, dan membuktikan bahwa kita sama. Bahkan akulah orang yang seharusnya menjadi raja. Dan saya akan membuktikan kata-kata yang selalu terucap dari saya. AKU, KAMU DAN DIA ADALAH SAMA. Dan bahkan AKU-lah yang akan menjadi raja yang tak mengenal diskriminasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BISNIS