bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

esai negeri 5 menara


Persahabatan adalah Bumbu dalam Menyusun dan Meraih Asa
Oleh       : Andes Nirvana Imandika
Sifat, karakter, kebiasaan, dan segala sesuatu yang menjadi salah satu ciri dari bangsa merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh seluruh manusia. Setiap insan yang hidup dalam planet bumi yang terus menggelorakan jiwa dan raga, segalanya akan menjadi satu kemajuan yang efektif

Jumat, 02 Maret 2012

ESAI FILM DIBAWAH LINDUNGAN KA’BAH


CINTA DALAM WADAH OBSERVATIF
Oleh : Andes Nirvana Imandika
(www.andesn.blogspot.com)

Kebersamaan dalam suka duka menjadi hal yang akan tetap kekal. Tangan kita akan semakin lengkap jika kita mencengkeram tangan seseorang yang rela untuk kita cengkeram. Cinta dapat dijabarkan dari segi manapun kita mengartikan. Dan dari sudut

Kamis, 23 Februari 2012

ESAI CERPEN MAJALAH GALAKSI MIEPRA EDISI 13 MISI KUPING ORANYE

ESAI CERPEN MAJALAH GALAKSI MIEPRA EDISI 13
MISI KUPING ORANYE
Oleh    : Andes Nirvana Imandika
(www.andesn.blogspot.com)
            Kehidupan sangat membutuhkan rencana. Entah itu rencana yang baik, rencana yang sedikit runyam, rencana yang selalu membingungkan

Jumat, 25 November 2011

esai otosentrisitas kebudayaan

Esai: Otosentrisitas Kebudayaan

andes nirvana

KEBUDAYAAN harus memiliki otosentrisitas,sebuah ”otonomi relatif”bukan bentukan kekuasaan.Ia spirit yang melakukan kritik saat sejarah mengalami krisis.

Dalam antropologi terjadi pembelahan kebudayaan, yakni antara kubu yang memosisikan kebudayaan harus bermanfaat bagi sistem sosial dengan pihak yang meletakkan kebudayaan dalam simbolisme. Pada yang simbolik ini,kebudayaan memiliki otonomi relatif,maka tidak harus memberikan kemanfaatan politik.

Pada aras struktural, pembelahan ini kemudian menggeser definisi kebudayaan, tidak lagi sebagai sistem nilai,tetapi sites of contested representation and resistance.Kebudayaan selalu tergulat dalam kekuasaan, baik melegitimasi ataupun melawan. Tentu kita sepakat bahwa titik sentral kebudayaan adalah penahbisan manusia sebagai animal simbolicum, hewan simbolik.

Manusia mampu menjarak dari kehidupan dan memasang simbol-simbol untuk memaknai dan mereproduksi alam menjadi karya manusiawi.Dari sini terjawab kenapa etimologi kebudayaan kita merujuk pada terma Abhyudaya. Lafadz Sansekerta yang diambil dari Kitab Dharmasutra dan Buddha ini mengacu pada kehidupan sejahtera, tidak hanya sosial, tetapi juga spiritual.

Satu hal yang sebenarnya kurang sejalan dengan terma culture yang bermakna pengolahan (cultivating).Terma Eropa ini lebih merujuk pada pengolahan developmentalistik sehingga culture (kebudayaan) selalu diarahkan kepada civilization (peradaban). Risiko nyata, yakni arah budaya; tradisi, nilai, seni,dan agama,mesti digerakkan untuk membangun hadharah; peradaban kota nan teknokratis dan negara-sentris.

Terma kebudayaan yang developmentalis ini terjadi karena perspektif budaya didekati melalui sudut pandang sistem.Kebudayaan disamakan dengan organisme biologis, unsurunsurnya membentuk struktur yang memperkuat sistem secara keseluruhan. Ini terjadi pada fungsionalisme antropologi yang melihat kebudayaan sebagai conditioning, usaha kondusif untuk memenuhi kebutuhan psikoekonomis.

Kebudayaan kemudian bersifat materialis karena ia lahir dari kebutuhan dasar ekonomi dan dari basis itulah segenap ”langit-langit nilai”terbias. Gerak ini terjadi pada era Orde Baru (Orba) yang telah menggerakkan strategi kebudayaan fungsional. Segenap elemen budaya baik ilmu sosial,agama,universitas,ormas,partai, dan ideologi negara diposisikan sebagai ”sel-sel” substruktur yang memperkuat tubuh politik, yakni ”pembangunanisme”. Kebudayaan menjadi ”yang sakral”, segenap penafsiran rakyat tidak boleh melenceng dari the sacredtersebut.

Tetapi, bukankah wajar mengarahkan kebudayaan pada pembangunan tertentu? Ya,tetapi dengan syarat,penggerakan itu tidak melalui intervensi politik karena melampaui sistem, kebudayaan terlebih adalah persoalan makna. Inilah yang melahirkan definisi kedua, yakni kebudayaan diposisikan sebagai aspek ideasional. Ia bukan sel-sel yang terstruktur dalam tubuh sosial,melainkan capaian makna yang melampaui segenap realitas.

Dari sini pembahasan kebudayaan bukanlah eksplanasi kausalitas, antara sebab ekonomis yang menentukan akibat politik.Namun, sebuah pencarian makna yang tersembunyi dalam simbolisme publik.

Politik Diskursif

Dalam perjalanannya, kedua konsep di atas,baik yang melihat kebudayaan sebagai sistem fungsional maupun simbolik,telah mengalami revisi.

Pada zaman pascastrukturalisme ini, konsep budaya sebagai makna adiluhung telah menimbulkan tanya,makna menurut siapa dan untuk kepentingan siapa? Ini merupakan pergeseran paradigmatis. Pada era strukturalisme, satu era ketika para antropolog Indonesianis tergerak meneliti struktur budaya kita, selayak santri, abangan, priyayi, mistisisme, dan genre ideologi politik 1955 dilakukan Herbert Feith.

Dalam paradigma ini,kebudayaan dilihat sebagai representasi kesadaran kolektif yang memb e n t u k struktur nalar untuk kemudian melahirkan tipe budaya tertentu berdasar afiliasi primordial. Pendekatan ini dikritik oleh pascastrukturalisme yang memosisikan kebudayaan sebagai diskursus. Risiko nyata, yakni daripada menerapkan metodologi ilmiah untuk memetakan budaya dalam kotak tertentu, pengkaji budaya seharusnya sadar akan kondisi sosial yang melahirkan metode tertentu yang membuatnya tak bebas nilai.

Dari sini arah bidik kebudayaan justru melakukan perlawanan atas bentukan (representasi) diskursif dari otoritas ilmiah.Kebudayaan dalam hal ini telah tergerak dalam differance, yakni pemelesetan makna dari kuasa pengetahuan yang menamai kebudayaan. Pada titik inilah permasalahan kebudayaan kita mengalami pergeseran dari era Orba.

Pada era state qua state itu, persoalan utama adalah bagaimana menggerakkan strategi kebudayaan pada aras makro. Fungsionalisme struktural dipakai melalui pemilahan evolusionis, mana budaya yang sejalan a t a u menghambat pembangunan? Teori mentalitet lahir selayak evolusionisme Koentjaraningratyangmengharuskan kebudayaan memberi sumbangsih bagi pembangunan.

Saat ini, ketika negara runtuh,kebudayaan terbelah seiring terpencarnya pergulatan budaya pada aras horizontal. Dalam situasi ini posisi kebudayaan yang semula dijadikan hegemoni, legitimasi moral-intelektual untuk membuat masyarakat setuju dengan agenda negara, mengalami pembuyaran.

Kenapa? Karena pascareformasi 1998 tak ada lagi sekat dikotomik antara negara versus masyarakat sipil.Negara menjelma dirinya dalam pluralisme politik, sebuah ruang bebas untuk persaingan bebas antarkepentingan. Di sinilah pergeseran terma kebudayaan menjadi urgen.Kebudayaan kini harus mendefinisikan dirinya sebagai pembebasan atas representasi kekuasaan yang pada satu titik tetap menggunakan kebudayaan sebagai hegemoni.

Ini yang membuat arah ideasional menjadi penting, yakni kebudayaan tidak lagi terbatas pada seni dan pembangunan jati diri,tetapi lebih menyadari dirinya dalam ruang diskursif. Satu hal yang disebut Tony Bennett sebagai ”sirkuit budaya” ialah kebudayaan melakukan kritik terhadap kekuasaan yang mereproduksi diri melalui kebudayaan. Kebudayaan sebagai diskursus menjadi penting karena pascadevelopmentalisme Orba, ilmu sosial kita tumpul,kehilangan musuh bersama sehingga kelimpungan memetakan diri.

Yang ada kini hanyalah ilmu sosial pop yang berkecambah dalam lalu-lintas wacana di jejaring NGO kita. Civil society kita menjelmakan ”demokrasi gelembung udara” karena berbagai kerja kebudayaan yang dulu menggumpal menjelma counter hegemony atas negara kini kehilangan episteme kritis yang abai terhadap tanya, apa kepentingan kekuasaan di balik wacana kemanusiaan yang mereka perjuangkan?

esai budaya ketupat



Saifur Rohman
Peneliti Filsafat; Bekerja dan Menetap di Semarang
Fenomena kebudayaan Indonesia mendapati kekhasan dalam ketupat. Karena ketupat, ritual keagamaan tidak lagi persoalan hukum agama, tetapi telah merasuk pada kebiasaan, pranata sosial, hingga instrumen komunikasi virtual maupun aktual.
Seorang sarjana bidang kajian budaya tidak dapat dikatakan paham secara emik latar masyarakat Indonesia jika tidak mampu membelah makna ketupat. Persoalan yang dihadapi para ahli, seberapa jauh makna ketupat relevan dalam pembentukan kebudayaan Indonesia modern?
Selama ini, kita baru tahu dari kajian antropologi struktural Claude Levi-Strauss tentang hubungan makanan dan kebudayaan. Buku Myth and Meaning (1978) mampu menjelaskan hasil-hasil kajiannya tentang kode-kode kebudayaan melalui makanan tertentu yang dipilih sebuah suku. Raymond Thallis (1996) meneliti hubungan antara makanan, pembentukan kosakata, dan identitas kebudayaan.
Sebagai contoh, dibandingkan dengan Barat yang minim, kekayaan kosakata untuk buah kelapa kecil sampai tua menunjukkan, kebudayaan Indonesia amat terkait dengan lingkungan pantai tempat pohon kelapa tumbuh.
Fase kehidupan
Berdasar perspektif itu, tidak sulit dipahami adanya menu makanan yang berbeda untuk mengenang aneka peristiwa penting dalam hidup manusia. Kelahiran bayi ditandai menu makanan dari dedaunan hijau dan biji-bijian. Bayi itu tumbuh dan saat menyelesaikan hal-hal penting dalam fase kehidupan, acara selamatan akan digelar dengan menu makanan yang berasal dari pasar. Masyarakat kebanyakan menyebut jajan pasar.
Saat dewasa, seorang individu menyatakan lamaran dengan bahan makanan yang penuh simbol. Tebu, hasil palawija, kelapa, dan makanan pokok ditata di ruang tamu. Manakala saatnya tiba sebuah keluarga kecil sudah mampu membuat rumah, maka topping off ditandai makanan simbolik yang diletakkan di ketinggian. Padi dan ketela untuk kemakmuran, kelapa untuk kekuatan, bubur merah dan putih untuk keseimbangan, dan bendera Merah-Putih sebagai identitas kebangsaan. Akhirnya kematian ditandai dengan nasi tumpeng dibelah dua.
Semiotika ketupat
Konfirmasi atas fakta-fakta itu hendak membuktikan betapa eksistensi makanan ketupat dalam kultur masyarakat Indonesia tidak dapat diabaikan. Bila kita meminjam perangkat metode semiologi Charles Sanders Peirce, proses produksi pemaknaan ketupat dapat dilihat sebagai ikon, lambang, dan simbol. Ikon adalah penunjuk langsung; lambang adalah proses pengangkatan ikon ke dalam norma-norma keseharian; simbol adalah lapis pemaknaan reflektif atas lambang yang terkait struktur kebudayaan.
Sebagai ikon, ketupat dideskripsikan sebagai makanan berbahan beras yang dibungkus daun muda pohon kelapa atau janur. Tidak setiap orang mampu membuat anyaman janur sebagai wadah beras. Ikonografis ketupat lalu dimunculkan sebagai romantisme menyambut Lebaran.
Sebagai lambang, ketupat memberi arti penting dalam proses perayaan. Sebagai bukti, sebagian masyarakat pesisir Jawa membagi perayaan Lebaran menjadi dua, Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. Idul Fitri jatuh 1 Syawal, sedangkan Lebaran Ketupat adalah satu minggu setelahnya (7 Syawal). Ketupat tidak ada dalam Idul Fitri karena hanya hadir dalam Lebaran Ketupat.
Sebagai simbol, secara historis ketupat lahir dari sebuah pergulatan kebudayaan pesisiran. Sumber dari Malay Annal (1912) oleh HJ de Graaf menyebutkan, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Fatah pada awal abad ke-15.
Bungkus ketupat dipilih dari janur. Mengapa janur? De Graaf menduga-duga secara antropologis bahwa hal itu berfungsi sebagai identitas budaya pesisiran karena pohon kelapa kebanyakan tumbuh di dataran rendah. Selain itu, warna kuning memberi arti khas untuk membedakan dari warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.
Saling kunjung
Kebiasaan berkunjung dan bersalaman bisa dijelaskan melalui etimologi kata ketupat, yakni kupat (Jw) (Sumber: Slamet Mulyono Kamus Basa Jawa, 2008: 199). Para frase kupat adalah ngaku lepat, mengaku bersalah. Kata itu menuntut kita menghilangkan rasa benci, tersinggung, dan introspeksi diri agar bisa saling memaafkan. Ketupat membimbing manusia pada fase pemahaman paling ultim tentang hakikat manusia.
Kini, budaya ketupat tidak bisa tergantikan. Memang ada gambar ketupat di kartu pos, e-mail, SMS, MMS, dan aneka jejaring sosial. Namun, karena makan ketupat itu tidak bisa secara virtual, ketupat mengundang kita untuk hadir, bertatap muka, saling bercerita. Kita disadarkan, betapa kehidupan sehari-hari menjauhkan kita dari keluarga, kerabat, dan sahabat. Kita menjadi makhluk asing yang terlempar dari budaya ketupat.
Ada pula ketupat sayur di Jakarta. Namun, meski kita bisa makan kapan saja, sebetulnya menu itu ingin menghadirkan budaya ketupat dalam kehidupan sehari-hari, bukan setahun sekali. (Kompas, 19 September 2009)






Senin, 07 November 2011

Esai Ketika Cinta Bertasbih 2


Esai Ketika Cinta Bertasbih 2
Film Ketika Cinta Bertasbih 2 adalah film Indonesia yang identik ceritanya berbau kerohanian atau dapat dikatakan sebagai film bergenre religius. Film dengan nuansa religi ini merupakan kutipan atau bentuk dari novel dengan judul sama yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy dan dijadikan film yang disutradarai oleh Chaerul Umam. Film yang memiliki banyak hikmah ini mampu merasuk dalam sanubari masyarakat Indonesia yang haus akan iman dan makhlik sempurna didunia ini dapat luluh dengan apa yang telah ditayangkan dalam film yang bernuansa religi.
Tidak mudah juga mencari Aktor yang tepat untuk menjadi tokoh dalam film ini. Habiburrahman El shirazy yang menjadi sumber perancang juga turun dalam audisi untuk mencari aktor yang akan memainkan filmnya. Usaha yang dilakukan sang sutradara ini benar-benar matang dan sangat memuaskan hasilnya. Menemukan Kholidi Asadik Alam menjadi tokoh Azzam dan memilih Okky Setiana Dewi kembali menjadi tokoh Anna Althafunisa.
Tokoh Azzam yang dibintangi oleh aktor bernama Kholidi Asadik Alam ini bersifat sangat lembut, sopan terhadap orang tuanya serta memegang teguh agama islam. Dengan ilmu yang dia tempuh di Kairo membuatnya semakin tebal akan ilmu agama. Serta tokoh Anna Althafunisa yang diperankan kembali oleh Okky Setiana Dewi dengan sifatnya yang sangat lembut pula. Anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya dan juga berpegang teguh dalam agamanya. Mereka berdua masih menjadi pusat cerita atau sebagai tokoh utama dalam film yang menggambarkan nuansa religi yang sangat dalam.
Didukung skenario penuh konflik, tapi dengan lembut atau tidak kasar dan selalu rendah hati dan sopan santun yang dijunjung tinggi. Bukan konflik emosional yang meledak-ledak. Tetapi lebih kepada konflik seseorang dengan nasibnya dengan kepala dingin dan tetap tawakal. Secara tidak langsung, para penonton diberi contoh bagaimana menghadapi masalah. Dengan cara bagaimana kita menghadapi masalah. Tidak dengan emosional tetapi dengan berusaha dan diserahkan kepada yang kuasa tentunya. Sabar dan selalu bertawakal adalah kunci agar masalah terselesaikan dengan baik itulah yang dicontohkan kepada kita semua dalam film yang berdurasi lumayan lama ini.
Film KCB pertama dan kedua hamper sama. Dan aktornya masih tetap. Hanya saja, latar tempatnya yang berubah. KCB pertama kebanyakan latar tempatnya berada di Mesir. Beda dengan KCB yang kedua, kebanyakan dan bahkan terpusat hanya di Indonesia saja. Tidak lagi ada di Mesir. Tetapi, adegan-adegan yang ada dalam film tersebut mengharukan, sedih, bangga, masalah-masalah yang menimpa, dan tak ketinggalan lagi yaitu tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta. Cinta yang tak beradegan berlebihan, tetapi merasuk dalam sanubari yang paling dalam. Intinya, cinta yang sesempurnanya cinta. Dan menunjukkan kepada penonton bahwa cinta memang suci dan jodoh takkan lari jauh dari kita jika kita tidak mempermainkan cinta suci.
Kisah di film kedua memang berangkat dari Azzam yang dilanda kecewa karena ditinggal menikah Anna Athafunnisa (Oki Setiana Dewi) yang dinikahi Furqon (Andi Arsyil Rahman). Dirinya pun bertemu dengan Vivi (Asmirandah), dokter cantik yang baru saja lulus dari Universitas Diponegoro.

Dan para penonton diajak untuk merenung bagaimana ketika kita mendapat masalah seperti yang dialami oleh Azzam. Ketika ia akan menikah dengan Vivi, lalu Azzam dan Ibunya kecelakaan dan Ibunya meninggal dunia? Apa yang akan kita rasakan ketika kita juga mengalami hal yang sama dengan adegan tersebut? Apa para aktor dalam film tersebut dapat mempengaruhi hati kita? Mungkin hanya orang yang berhati keras yang tidak mengeluarkan air matanya ketika melihat adegan yang benar-benar sukses dan benar-benar merasuk dalam semua bagian otak yang akan terisi penuh dengan air mata. Dan menghabiskan air mata kita ketika kita melihat klimaks dari adegan yang mendapatkan musibah yang bertubi-tubi. Tetapi apa yang dilakukan Azzam? Dia tetap tabah, sabar dan tetap berserah diri kepada Yang Maha Esa. Serta tetap menjunjung tinggi ketegaran hidupnya bersama musibah-musibah yang diberikan Tuhan kepadanya. Kita juga dapat melihat bagaimana karakter-karakter para tokoh yang benar-benar pas dengan adegannya. Dan karakter yang benar-benar muncul. Aura-aura yang Nampak sangat begitu sempurna dari semua tokoh. Mulai dari ibu Azzam yang benar-benar polos dan mencerminkan wanita desa yang lugu dan berpegang teguh pada agama. Serta Husna yang selalu patuh terhadap orang tuanya serta kakak tercintanya, Azzam. Dan Azzam yang menunjukkan kesopanan dan ketabahan, yang pada saat adegan ketika Azzam sampai dirumahnya dan berlutut dihadapan ibunya. Benar-benar kejadian yang mengharukan. Dan saat ibunya meninggal itulah yang benar-benar menguras air mata kita dan klimaks yang benar-benar dapat memasuki alam bawah sadar kita. Sehingga kita dapat merasakan betapa hancurnya Azzam ketika itu.
Tak hanya aktor yang teraudisi saja yang penampilannya sangat cocok dengan karakternya. Tetapi juga dengan adanya perpaduan aktor yang sudah berpengalaman dan sudah menjadi senior aktor yang benar-benar hebat dalam berakting. Yakni H. Deddy Mizwar yang memerankan ayah Anna dengan sangat baik dan sangat cocok dengan karakter yang diperankannya.
Menurut saya, acungan seribu jempol, bahkan berjuta-juta jempol untuk film Ketika Cinta Bertasbih ini. Memang pantas para Aktor, sutradara dan crew yang mengemas film tersebut dengan sebaik-baiknya. Karena selain sebagai hiburan, film ini juga memberikan ilmu agama yang benar-benar baik dan terkemas dengan paduan yang pas. Komposisi yang benar-benar hebat. Agar para penonton juga merenungkan serta dapat mengambil perilaku serta sikap yang baik dan dapat mempertebal imannya kepada Tuhan.
Memang film seperti inilah yang dibutuhkan oleh semua masyarakat, agar dapat meniru perilaku yang benar-benar baik serta dapat mencontoh hal-hal yang baik dari segi agama atau dari segi yang lainnya. Dan memang sangatlah pas komposisi dari film ini, keindahan, keserasian, keagamaan, dan dengan sejuta manfaat yang sangat banyak.

BISNIS