bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

melati dimusim kemarau


Drama
Melati dimusim kemarau
Oleh   : andes  nirvana imandika
            Kedamaian air mancur mengalir di kolam. Dengan dihiasi oleh ikan yang luar biasa dengan mata tanpa kelopaknya. Tetapi tak terlengkapi tanpa bintang-bintang tak bersinar. Beku seperti kutup antartika yang menggerutukan es menjadi gumpalan kuat,erat dan tak ada keguguran dengan kompaknya bersatu. Dingin dan mencekam. Terfokuskan pada satu titik yang nantinya akan menjadi bahan pembicaraan yang menarik dengan keadaan dingin seperti  Rumah Sakit dimana Dahlia dirawat.
Didit    : “Kak Tuning sepertinya kau terlihat lelah”.
Tuning : “ Enggak Dit. Kak Tuning sudah baikan.” Dan apa kamu hari ini tidak ada jam kuliah?’’
Didit    : “Kebetulan kak. Besok aku enggak ada jam kuliah, jadi mala mini aku bisa menjaga Dahlia.
Sementara itu kakak juga harus istiraha. Karena kakak juga harus bekerja. Iya kan?”
Rudi    : “ Benar kata Didit, Ning. Seharusnya kamu beristirahat dulu. Kamu sudah menunggu Dahlia selama 3 hari ini. Aku dan Didit pun tidak menginginkanmu sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang bekerja buat kedua adikmu?
Didit    :”Betul kata kak Rudi , Kak. Sebaiknya kakak istirahat dirumah saja dulu”.
Tuning : “Baiklah kalau begitu aku akan pulang”.
Rudi    :” Aku antarkan ya Ning”.
Tuning : “ Tidak perlu. Aku naik angkutan umum saja”.
Rudi    :” Sekarang sudah malam Ning. Kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan bagaimana?”
            “Aku antarkan saja ya Ning?”
Tuning : “Kalau begitu, aku akan naik Taksi saja”.
Rudi    :”Hari sudah malam Ning. Apa jadinya kalau perempuan sendiri naik taksi. Apa nantinya tidak di curigai yang macam-macam”.
Didit    :”Betul kak Tuning. Maksud kak Rudi baik. Hanya mengantarkan kakak agar kakak bisa aman dan tenang”.
Tuning: (dengan berat hati karena masih merasa asing dengan Rudi)   “Baiklah, kalau begitu ayo cepat-cepat. Sudah larut malam.”

Malam membeku dengan sejuta bintang tak berkedip. Sementara hanya cahaya lampu kota yang dapat menghiasi malam. Tanpa bintang di langit dan  hanya ditemani dengan separuh dari bulan purnama. Suasana mencengkram sepersepuluh dari bagian bumi yang menjadikan suatu tempat dimana keindahan dan suasana haru terpancar dari rumah mungil dan terhunikan oleh wajah Tuning yang begitu terlihat jelita meskipun sudah jelas bahwa dia lelah dengan semua masalah yang telah menimpanya. Setelah kakak tercintanya meninggal, dan kini Dahlia terserang penyakit demam berdarah. Lamunan Tuning terpecah ketika mobil telah berhenti didepan rumah.
Rudi    : “Ning, sudah sampai.”
Tuning : (Dengan membuka pintu mobil) “Terima kasih mas. Mas juga hati-hati dijalan ya?”
Rudi    : “Apa aku tidak boleh mampir dulu Ning?’’
Aku hanya ingin sekedar ngopi-ngopi saja. Apa tidak boleh Ning?
Tuning : Hari sudah malam mas. Saya tidak ingin tetangga-tetangga disini salah paham dengan kita. Karena mas juga tahu sendiri kan bagaimana kampong ini menjunjung moral.
Rudi    :”Iya Ning. Aku juga tahu. Tetapi kita kan tidak berbuat apapun kan? Kenapa kita harus takut? Apa kamu tidak mau memberiku minum hanya sekedar minum kopi Ning?”
Tuning : (Dengan alasan yang sangat kuatnya)
            “Jangan mas. Hari sudah malam “.
Rudi    : “ Tapi aku juga ingin menonton film kesukaanku dulu. Sekarang episode terakhir, kalau nanti aku pulang, aku tidak mungkin bisa menonton. Sekarang adalah episode terakhir  Ning, dan aku sangat menunggu episode terakhirnya.
Tuning :(Dengan lemah gemulai) baiklah mas, setelah kamu menonton TV, ku harap mas langsung pulang .
Rudi    : (Dengan perasaan yang amat senang, karena alasan itu membuat Rudi ingin selalu dekat dengan Tuning) Iya Ning. Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk menonton TV disini .

            Gelap malam semakin tak Nampak satu dari bintang yang akan tersenyum. Tak ada yang Nampak cahya dan tanpa hadirnya suara jangkrik dan tak ada juga gemuruhnya siur-siur kendaraan bermotor lainnya. Dan semua kesunyian itu terpecahlah dengan kehadiran kata-katanyang keluar dari mulut Tuning.
Tuning :’’ Filmnya sudah  habis mas. Ku harap mas segera pulang. Tidak enak dengan tetangga.
Rudi    :” Apa kamu tega Ning, tengah malam begini aku disuruh pulang.”
Tuning :”Bukan masalah tega ataupun tidak tega mas, tapi kita ini berlawanan  jenis dan hanya ada kita berdua disini. Kalau Didit dan Dahlia ada disini, itu mungkin mas bisa tidur disini. Tapi saat ini tidak mungkin mas. Karena tamu 24 jam kan wajib lapor. Saya harap mas pulang saja ya mas. Daripada nanti ada tetangga yang sirik dan curiga kepada kita.”
Rudi    : “Kita kan tidak melakukan apa-apa Ning ? “ Kamar Didit kan kosong. Aku tidur dikamar Didit saja apa tidak boleh? Atau aku tidur didepan TV aja tidak apa-apa kok “.
Tuning : (Dengan tetap ingin Rudi untuk pulang) Bukan seperti itu mas, tapi apa kata tetangga nanti jika ada dua orang yang lawan jenis bahkan bukan siapa-siapanya. Dan belum lapor ke ketua RT . Aku tidak mau hal-hal yang negative terpancar dari wajah kita mas.
Rudi    : “Kenapa kamu tidak percaya kepadaku Ning?’
Tuning :” Bukan masalah percaya atau tidak percaya mas. Aku takut saja nanti tetangga menilain kita negative mas.
Rudi    : (Mendekat kepada Tuning dan memegang tangan Tuning) “percayalah Ning. “
Tuning: (Dengan menolak pegangan tangan dari Rudi) “Tolong mas lepaskan tangan Tuning.”
Rudi    : Jangan sok suci Ning. Aku cinta kamu Ning.”
Tuning : “Apa yang mas maksud? “ Mas jangan macam-macam mas.
Rudi    : (Dengan mendekat dan ingin mencumbui Tuning) “Aku jujur Ning, Aku tulus mencintaimu. Dan malam ini aku akan membuktikan bahwa aku mencintaimu”.
Tuning : (Dengan tetap menggertak dan ingin melepas pegangan erat Rudi) “apa-apaan mas ini”. Apa maksudnya mas ini. Mas tidak mencintai aku mas. Aku tidak bisa.
Rudi    : “Kenapa?” apa kamu sudah menjadi simpanan  bos kamu itu? Kenapa kamu tidak mau aku antarkan saat kamu pergi kekantor. Tapi kamu dijemput bos kamu. Kenapa? Apa kamu sudah menjadi simpanan Bos kamu itu?”
Tuning : (dengan menangis Tuning menampar Rudi) “Kenapa kau seperti itu ? aku tidak menyangka kamu berfikir negetif kepadaku.”
Rudi    : (memeluk Tuning dengan erat) Aku cinta kamu Ning. Dan aku akan membuktikan semua ini dengan hasrat ku ini. Kita akan menikmati mala mini.( Memaksa dan mencumbui pipi dan bibir Tuning)
Tuning : (menggertak dan ingin terlepas dari dekapan Tuning) “Kamu tidak mencintai aku mas. Kamu cemburu dengan semua ini. Aku dan bos ku tidak ada hubungan apapun. Kenapa kamu cemburu dengan itu? Kamu tidak mencintai ku. Jangan kau anggap negative aku  mas. Aku tidak mencintaimu (padahal Tuning juga mencintai Rudi. Tetapi, Tuning malu dan merasa tidak pantas dengannya.)
Rudi    : “(tetap mendekap dan mencium leher dan bibir Tuning) Aku mencintaimu Ning. Jangan seperti itu Ning. Jangan menolakku malam ini ya Ning? Aku mencintaimu Ning “.
Tuning : (ingin melepaskan dekapan Rudi. Tetapi tidak kuat karena badan Rudi yang begitu kekar dan gagah). Lepaskan aku mas. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak mau mas. Aku tidak mau. Aku tidak ingin tetangga tahu tentang ini mas. Kamu jangan seperti itu mas. Kamu jangan menuruti nafsu mu itu.
Rudi    : “Aku mencintaimu Ning”. Aku tidak akan melepaskanmu. Karena aku akan memilikimu Ning.” Aku cinta kamu Ning” . Aku Cinta Kamu Ning”.
Tuning : Lepaskan aku mas. Lepaskan aku mas.
Rudi    : “Aku tidak mau Ning. Aku mencintaimu. Aku ingin memilikimu malam ini Ning”.
Tuning : “Maaf mas. Aku tidak bisa. Tolong jangan memaksaku seperti ini.
Rudi    : (tetap memaksa dan ingin merenggut Tuning) Aku mencintaimu Ning. Apa alasan kamu untuk tidak mencintaiku?
Tuning :(terlempar jatuh disudut dekat pintu dan akan terlihat dari luar karena jendela yang tidak ada tirai untuk menutupinya) Jangan paksa aku mas. (dengan menangis dan merasa kesakitan karena terjatuh kelantai dengan keadaan baju yang tersobek)
Rudi    : “Maafkan aku Ning” aku tidak bermaksud untuk melukaimu. Tetapi aku ingin membuktikan semua ini kepadaku.”
Tuning: “ Aku tidak mencintaimu Mas. Aku tidak bisa melakukan ini”.
Rudi    : “Maafkan aku Ning. Kamu tidak kenapa-kenapa kan? Maafkan aku Ning. Aku tidak bermaksud untuk melukai dan mencelakan kamu. Aku hanya mencintaimu.

            Kini malam yang diam membisu dan mencengkam berubah menjadi peredaran darah yang memacu otak untuk berfikir dan menjadikan panas rasa yang tak akan terlupakan. Dan takkan bisa melupakan keganasan dan kekejaman Rudi terhadap Tuning. Rudi telah melacuri Tuning.
            Akhirnya Tuning mengambil kesempatan karena ingin terlepas saat Rudi melepaskan pelukannya kepada Tuning. Dan mendorong Rudi sehingga Rudi akhirnya terlempar dan tidak bisa bangun dan tidak bisa menggapai Tuning kembali. Lalu Tuning akhirnya bangun dan berlari secepat mungkin untuk masuk kamar dan menguncinya.
            Dengan seperti itu Tuning akan terbebas dari Rudi dan Tuning menenangkan fikirannya dibawah bantal dan selimut tidurnya. Didalamnya
Tuning menangis dan  sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh Rudi.
Tok…tok… tok…… suara pintu yang sedang diketok oleh Rudi
Rudi    :  “Tuning. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu Ning”. Aku sangat mencintaimu Ning. Aku tidak ingin menyakitimu Ning. Aku mencintaimu ning. Aku sangat mencintaimu Ning.
Tuning : Tolong Tinggalkan aku sendiri. Aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti itu mas. Aku tidak suka seperti itu. Jangan memaksaku. Rasaku sudah mati untuk mu. Aku tidak mencintaimu mas. Aku tidak mencintaimu. Tolong tinggalkan aku sendiri.
Rudi    : “Baiklah kalau itu mau kamu. Aku akan menunggumu. Dan aku mencintaimu. Sangat mencintaimu Ning. Aku ingin membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu Ning. Aku tidak akan meninggalkan mu. Aku mencintaimu.

Dan saat itulah, malam kembali menjadi menangis dengan ditemani rembulan yang tergigit oleh keganasan. Hingga sampai akhirnya tidak bisa membuat hidup menjadi terang dan selalu ada malasalah yang hadir. Disisi lain saat kota menjadi teramat panas dengan keadaan Tuning yang hancur karena Rudi yang sangat tega seperti itu kepada Tuning.
Bibir Tuning dan seluruh leher Tuning yang telah dijajah oleh bibir lembut Rudi menghancurkan kesenyapan dunia malam dan hingga akhirnya menjadi sumber mata air dari wajah Tuning yang teramat bermakna menemani malam-malam Tuning.


Sementara Rudi yang berada dalam kamar Didit menyesali apa yang telah dilakukannya kepada Tuning. Dan tidak bisa merasakan betapa hancurnya perasaan Tuning saat itu. Tuning selalu ditemani oleh rasa sedih dan tangisan yang sangat mendalam terhadap hati dan perasaanya. Tuning terhanyut dalam keadaan malam yang sangat tenang ketika segalanya telah tertidur pulas dan Tuning pun mengalir dalam mimpi-mimpi dan terlelap dalam keadaan yang sangat hancur dalam hidupnya

Selasa, 06 Desember 2011

ketika hujan turun


Ketika Hujan Turun

Tetesan air menemani suasana sore didaerah terpencil dari sudut kota. Dinginnya angina mulai menusuk hingga tulang iga. Berisik suara runtuhan air kecil-kecil yang membuat orang-orang mendepis masuk dan menghentikan aktifitasnya. Nampak kekacauan terfokus pada satu titik terang dengan lampu sekitar 15 watt. Yang terdengar ada sedikit konflik yang mungkin dapat mengakibatkan perang dunia ke-III.

Bu Wage         : Yanto sudah besar pak. Malam ini juga malam minggu. Mungkin, Yanto juga
punya acara dengan  teman-teman ataupun pacarnya, Pak (bujuk bu Wage  
dengan wajah yang memelaskan dirinya demi anak tersayangnya)

Pak Wage        : Apalagi untuk pacaran, dia itu seharusnya kerja dulu. Biar tidak minta-minta bapaknya. Aneh sekali, orang miskin kok pacaran. Dasar tidak tahu diri (dengan emosi pak Wage yang meledak-ledak dengan detak jantung yang berdetak satu tera perdetik)

Bu Wage         : Yanto itu juga sudah remaja pak. Sudah wajarlah apabila dia sudah pacaran. Apa ada undang-undang yang melarang orang melarat kayak kita ini nggak boleh pacaran? ( dengan ngotot dan tetap berpihak pada anak tersayangnya)

Pak Wage        : Tidak, tidak, tidak pokoknya tidak (dengan nada membentak  murka). Susah payah aku narik becak dengan keringatku yang terbuang dan tak ada harapan untuk bisa merubah hidup menjadi lebih layak. Aku narik becak ini untuk biaya bertahan hidup keluarga kita. Bukannya untuk membiayai orang yang pacaran. Pokoknya tidak ya tidak. (pak Wage berinjak meninggalkan bu Wage dan Yanto)

Bu Wage         : Sudah nak, kamu ndak usah khawatir. Ibu akan jual ayam yang ada di kandang belakang. Biarkan saja bapakmu marah-marah terus. Biar cepat tua.

Yanto              : Tapi bu. Bagaimana jika bapak tahu kalau ibu menjual ayamnya. Yanto takut kalau dimarahi oleh bapak, bu.

Bu Wage         : Tenang nak. Nanti ibu yang bicara sama bapakmu kalau bapakmu marah.

Yanto              : Ya sudah bu. Terimakasih banyak ibu.

                       
                       
Pak Wage mengetahui tentang semua yang dilakukan istrinya untuk menjual ayamnya untuk anaknya. Tapi pak Wage tidak mengambil tindakan apapun. Dia hanya diam saja dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Bu Wage         :Wah….
                        Alhamdullillah….
                        Anakku sudah besar, cakep, sudah cepat bermalam mingguan dengan pacar kamu. Pasti pacar kamu sangat terpesona dengan kegantengan anakku ini.

Tiba-tiba pak Wage keluar tanpa pamit dan membisu seribu bahasa. Tanpa berfikir panjang, digapailah becak kesayangannya dan mengayuhnya dengan sekuat tenaga ia lakukan.
            Kini, selamat datang kegelapan. Sore senja berubah menjadi pucat pasi hitam. Bukan mendung. Tetapi memang malam telah datang. Tetap ditemani dengan rintikan hujan yang menghiasi perjalanan pak Wage dengan menikmati untuk mengayuh becaknya dan mengantarkan semua penumpangnya ketempat dimana penumpang tuju. Dan saatnya pak Wage mengistirahatkan diri dan berhenti di basecamnya. Yaitu sebuah pangkalan tempat dimana tukang becak biasanya berkumpul. Tiba-tiba terselip satu fikiran yang teramat cerdasnya difikiran pak Wage

Pak Wage        :’ malam minggu. Biasa di gedung bioskop hari-hari seperti ini ramai pula’

            Akhitnya pak Wage berinisiatif untuk mengayuh becaknya menuju depan bioskop. Ternyata filmnya hamper habis. Dan saat itulah para tukang becak berebut penumpang.
            Dan semakin malam, semakin habis tukang becak. Tetapi pak Wage tetap berusaha untuk mencari nafkah demi keluarga yang sangat ia sayangi. Hingga larut malam, ia rela menahan hujan yang teramat deras dan menahan rasa kedinginan yang menusuk-nusuk tulang rusuknya. Tapi pak Wage tetap berusaha mencari penumpang

Pak Wage        : Becak mas? Becak ? ada yang mau naik becak mas ? mbak?

Akhirnya pak Wage mendapatkan penumpang lagi dan penumpang itu menyebutkan sebuah jalan yang penumpang tuju

Pak Wage        : Empat Ribu saja mas.

            Pak Wage terasa sangat lelah dan kehabisan tenaga saat ia sudah bolak-balik hingga 4 kali mengantarkan penumpang. Tapi pak Wage masih ingin mencari 1 penumpang terakhir , dan setelah itu ia akan pulang kerumahnya. Tiba-tiba pak Wage melihat sepasang pemuda yang berada didepan gedung bioskop yang lumayan gelap.

Pacar Yanto    :” Mas, bagaimana jika kita pulang sekarang saja ( dengan digandengkan tangannya untuk mencari kehangatan dan perlindungan dari Yanto)
Yanto              : Nanti saja lah dik. Nunggu hujannya reda dulu. Baru kita nanti langsung pulang.( jawab Yanto dengan sedikit membujuk)

Pacar Yanto    : Kenapa nanti mas? Apa tidak takut kemalaman nanti jika tidak segera pulang? Kelihatannya disitu juga ada becak yang kosong mas? ( dengan mengacungkan telunjuknya kearah dimana becak itu terparkirkan). Kalau mas nggak punya uang untuk membayar ongkos becaknya, nanti biar aku saja mas yang membayarkannya.
Yanto              : Ya sudah, memang ini sudah larut malam. Nanti juga tidak baik. Apa kata orang jika pulang malam-malam. Kalau begitu mari kita pulang.

Pacar Yanto    : Baik lah mas. Terimakasih.
                        Pak………… Becak pak… (teriak pacar Yanto dengan kerasnya)

Dengan kecepatan dan kelincahan pak Wage lalu membuka plastik untuk dijadikan sebagai tutup becak agar tidak kehujanan. Sekilas pak Wage melihat wajah penumpangnya. Pak Wage melihat penumpang itu seperti taka sing-asing amat. Dan pak Wage terkejut ketika melihat penumpang terakhirnya malam ini adalah anaknya sendiri, Yanto. Tetapi pak Wage mencoba untuk menenangkan fikiran dan hatinya.

Pacar Yanto    : Kok diam, Mas ?? (dengan wajah yang penuh tanda Tanya dihidungnya)

Yanto              : Tidak apa-apa dik (mencoba menenangkan hatinya dengan keadaan seperti itu)

Pacar Yanto    : Marah ya Mas, kok diam saja? Jangan diam gitu dong.

Yanto              : Mas ndak marah dik.

Pacar Yanto    : Tapi , ya jangan diam kayak gitu dong. Masak aku harus duduk sama patung di becak. Kan nggak lucu jadinya?

             Rasa bangga, haru, dan sedih bercampur jadi satu-kesatuan yang teramat pahit dalam hati. Pak Wage merasa bangga, tetapi kepedihan pun juga terasa saat Yanto berpura-pura tidak mengenali bapaknya didepan pacarnya.

BISNIS