bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Jumat, 02 Maret 2012

ESAI FILM DIBAWAH LINDUNGAN KA’BAH


CINTA DALAM WADAH OBSERVATIF
Oleh : Andes Nirvana Imandika
(www.andesn.blogspot.com)

Kebersamaan dalam suka duka menjadi hal yang akan tetap kekal. Tangan kita akan semakin lengkap jika kita mencengkeram tangan seseorang yang rela untuk kita cengkeram. Cinta dapat dijabarkan dari segi manapun kita mengartikan. Dan dari sudut pandang manapun kita melihat. Teman akan menjadi sempurna apabila kita saling mempercayai. Persahabatan akan lebih indah saat kita bersatu. Dan cinta akan terus menyatukan kita apabila kita saling percaya, kebersatuan hati dan kesetiaan akan dapat dijadikan semangat hidup sampai kita terbujur dalam liang sempit yang akan tertutup dengan tanah merah. Dan film yang berjudul “DIBAWAH LINDUNGAN KA’BAH” (DLK) telah membuktikan bagaimana berharganya sebuah kepercayaan. Cinta, persahabatan, kasih sayang dan segala rasa yang indah telah membentuk suatu kejadian yang benar-benar membuat raga menjadi melayang dan selalu teringat akan kenikmatan surgawi dalam dunia. Cinta dan segala keindahan lainnya.
Film DLK yang didalangi seorang sutradara mahir yang memiliki nama Hanny R.Saputra telah berhasil menyajikan suatu novel karangan Hamka yang berjudul sama. Cinta memang selalu membumbui suatu karya sastra. Bukan hanya karya sastra, hal-hal yang lain juga tak akan manis apabila tanpa rempah-rempah cinta yang begitu meledak dalam hati kita. Film yang diperankan oleh Herjunot Ali sebagai Hamid. Dan actor wanita Laudya Cintya Bella menjadi anak sulung Haji Ja’far Zainab yang sudah cocok menjadi pasangan yang lumayan menarik.
Visualisasi film yang sedikit tidak match  ketika film tersebut menampilkan iklan atau sponsor yang telah mendukung dan men-support­  acara tersebut. Mau bagaimana lagi jika memang itu kehendak sang iklan jika memang produknya benar-benar harus ditampilkan. Meskipun tidak logis bahwa di zaman yang masih kolot sudah ada berbagai macam makanan yang siap saji dan tidak sulit untuk mencarinya. Harus pintar-pintar mengemas bagaimana sang sutradara menempatkan momentum yang begitu sulit untuk dimasukkan dalam adegan. Tetapi apa boleh buat jika memang itu yang sebenarnya terjadi. Meskipun nampak aneh dan terkesan lucu nan khayal, pada zaman seperti itu, terlihatlah suatu lelucon yang seharusnya tidak ada dan sangat aneh jika itu ada.
Drama dimulai saat anak sulung Haji Ja’far Zainab (Laudya Cintya Bella) merasakan hal yang luar biasa dan sangat bergema dalam kehidupan yang begitu indah dalam ikatan yang terhubung dalam segala aktifitas dan semua sel-sel dan bagian-bagian serta celah-celah bagian tubuh dan merasakan jatuh hati terhadap Hamid, perasaan yang sama pun sebenarnya dirasakan oleh Hamid. Namun karena perbedaan kasta dan dibayangi utang budi, Ibu Hamid melarang anaknya untuk berharap memiliki Zainab.Apalagi Zainab dijodohkan dengan Arifin (Ajun Perwira), putra Pak Rustam (Leroy Osmani), kerabat jauh Haji Ja’far yang dianggap lebih setara status sosialnya. Disinilah cerita ini memberikan satu nilai kebudayaan yang begitu observatif dan sangat menjunjung tinggi satu nilai adat desa yang sakral dan wajib diikutinya.
Cerita yang sedikit berbelit dan kurang begitu menarik serta adegan-adegan yang susah untuk ditebak apa maksud dari adegan tersebut memiliki sedikit nilai moral yang ada dalam agama islam. Pacaran ala islami. Tanpa bersentuhan. Hanya ikatan batin yang menjadikan satu rasa yang begitu mendalam dan sangat erat. Ketika berlari-lari dan berdekatan dengan dibatasi satu dinding yang sangat besar hingga tidak mengetahui batang hidung keduanya. Hanya berbisik dan berkata-kata dalam hati. Mengirimkan satu tali cinta dalam menggugurkan dinding raksasa dengan kekuatan cinta yang sangat kuat dalam kesetiaan dan kejujuran.
Alur yang flashback  menggambarkan bahwa Hamid adalah seorang lelaki yang benar-benar setia terhadap Zainab. Dengan sekian tahun lamanya dia meninggalkan Zainab, Hamid masih terlalu mencintainya dan bercita-cita untuk menikah dengannya. Cerita yang lumayan membosankan ini telah menjadikan kita agar kita dapat masuk kedalam cerita dan adegan yagn sedikit tidak jelas. Sehingga kita harus berfikir dengan secerdas-cerdasnya bagaimana cerita itu yang sebenarnya. Mungkin saja ketika sang Sutradara ingin membuktikan bahwa kesetiaan yang ada dalam cinta adalah sebaik-baiknya cinta. Hamid dan Zainab yang saling jatuh cinta,memiliki berbagai cita-cita yang ingin dia gapai, dan memiliki berbagi impian yang sama, yaitu tiap manusia bebas untuk mencintai dan dicintai, dan impian untuk menunaikan ibadah haji.
Hamid pun melakukan segalanya demi Zainab. Demi mewujudkan cinta mereka. Melewati berbagai halangan yang ingin memisahkan mereka, mencoba membuka satu persatu belenggu yang mengatasnamakan adat. Kejadian yang masih begitu kolotnya membuat segala hal menjadi runyam. Dan segala cinta akan pergi begitu saja dihadapan kita. Bahkan ketika keinginannya untuk meminang Zainab pupus, keinginannya untuk mewujudkan impiannya dan impian Zainab pergi ke Ka’bah tetap diperjuangkannya.
Ya, Hamid berjuang pergi ke Mekah demi Zainab. Dan Zainab berjuang mempertahankan cintanya demi Hamid. Sungguh tragedi yang sampai saat ini telah menjadikan suatu motivasi bahwa kesetiaan cinta memang dibutuhkan tanpa ada satu rasa yang ingin melicikkan diri sebagai salah satu pengecut dunia. Selingkuh, memadu, dan mendua, memang tak nalar jika itu memang benar-benar lelaki yang sejati pada dirinya. Bukan sang pengecut yang suka main belakang. Bukan seseorang pemakan darah daging manusia lain. Bukan kanibal yang menghisap darah pada tulang sumsum manusia itu sendiri. Dan bukan memakan hak milik orang lain. Itulah sesungguhnya memang fakta dari segala yang ada dalam dunia kita. Dunia sesuram Koran yang seharusnya menjadi putih. Bukan menjadikan lebih kusut dan dijual dan diperdagangkan. Dunia bukan untuk dimonopoli. Tetapi dunia untuk dirawat. Cinta, kasih, dan sayang akan tetap ada pada diri manusia yang benar-benar bersih. Benar-benar suci. Dan itulah sebaik-baiknya manusia yang bisa menjaga kepercayaan orang lain dan menghargai kepercayaan orang lain.




***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BISNIS