bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Jumat, 01 Juni 2012

esai negeri 5 menara


Persahabatan adalah Bumbu dalam Menyusun dan Meraih Asa
Oleh       : Andes Nirvana Imandika
Sifat, karakter, kebiasaan, dan segala sesuatu yang menjadi salah satu ciri dari bangsa merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh seluruh manusia. Setiap insan yang hidup dalam planet bumi yang terus menggelorakan jiwa dan raga, segalanya akan menjadi satu kemajuan yang efektif dalam berbagai kegiatan. Karakter adalah salah satu bagian terpenting yang ada dalam relung manusia. Kebaikan dan segala kekurangan adalah cermin menuju bagaimana bangsa itu sendiri. Entah bagaimana cara bangsa dan negaranya membentak dalam arti kehidupan yang sebenarnya. Atau hanya kehidupan yang maya akan segala sesuatu seperti cermin dalam segala kedustaan. Karakter adalah titian ilmu pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pengetahuan, juga tak akan berarti jika tidak dilandasi dengan moral yang benar dan suci. Entah manusia memilih seperti  yang bagaimana. Entah itu dalam kebaikan atau dalam keburukan. Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan. Karena itu, karakter menjadi prasyarat dasar.
            Faktor yang mendorong adanya karakteristik seseorang menjadi lebih buruk atau lebih sempurna adalah bagaimana cara ia menjaga, bagaimana cara ia bergaul, dan bagaimana cara melihat. Indera mata kita adalah alat yang paling menonjol dan cepat untuk memasukkan dan mengirimkan salah satu pemikiran kepada alat pemacu segala aktifitas kita. Yaitu otak. Jika kita melihat sesuatu yang positif, maka semua itu akan menjadi positif dan jika kita melihat sesuatu hal yang negative. Disitulah kita mendapatkan kehancuran yang amat berkeping-keping hingga lemah hati kita menjadikan hidup dalam kepekaan pikiran yang berubah menjadi positif. Sulit dan teramat sulit bagi kita membuat sesuatu menjadi segalanya positif. Maka, pendidikan karakter itulah yang perlu diperluas dan diperbanyak menuju kehidupan yang lebih positif dalam kebaikan.
            Teknologi dan perkembangan zaman sudah mulai pesat. Kehadiran IPTEK yang semakin melaju pesat membuat kita semua tak sadar akan kekayaan teknologi. Kehadiran televisi kini sudah tak asing lagi. Layar tancap kini telah di upgrade menjadi bioskop yang tempat dan semuanya menjadi nyaman. Kembali hadir film yang begitu menjadi pemacu pikiran kita agar menjadi insan yang positif. Kegigihan dalam hidup. Kecerdasan yang mendasar dalam hati dan meresap dalam lapisan-lapisan serta hingga mengalir melalu serambi dan bilik. Entah itu bilik kanan, serambi kanan, bilik kiri, serambi kiri, atau bahkan keseluruh tubuh. Segalanya ada dalam film yang dapat memotifasi kita dalam segala aktifitas kita masing-masing.
            Negeri Lima Menara (N5M) adalah salah satu film karya bangsa Indonesia sendiri yang menjadi hidangan yang menurut saya dapat menjadi teladan hidup kita menjadi semakin bertawakal, berdoa dan berusaha, yang akan membawakan keberhasilan kepada kita. Film yang ber-genre­ religious ini dapat menjadi salah satu cermin dalam kehidupan kita. Kegigihan, berusaha dalam melakukan sesuatu, dan menanamkan segala impian dengan disiram doa dan tawakal akan menjadi buah yang teramat matang dalam melaju kesuksesan. Film adaptasi dari novel yang berjudul sama ini adalah novel  karangan dari  Ahmad Fuadi. Dan sepertinya film ini sangat tepat seiring didengung-dengungkannya kembali perlunya pendidikan karakter di Indonesia. Film yang berlatar belakang pesantren Madani ini adalah bagian dari salah satu pendidikan karakter dan penginstalasian moral-moral kepada pikiran setiap manusia.
Keenam aktor Film ini di perankan oleh aktor papan atas Gazza Zubizzaretha sebagai Alif (pemeran utama),Ernest Samudera sebagai Said, Billy Sandi sebagai Baso, Rizki Ramdani sebagai Atang,Aris Adnanda Putra sebagai Dulmadjid, Jiofani Lubis sebagai Raja dan Ikang Fauzi sebagai Kiai Rai. Selain itu Film Negeri 5 Menara diperankan pula oleh Doni Alamsyah, Andhika Pratama, David Chalik, Inez Tagor, Mario Irwinsyah hingga pendatang baru seperti Eriska Rein dan Merayni Fauziah yang ikut berperan dan menjadi pemeran dalam film ini.Dalam ini mengisahkan seorang anak untuk dapat melanjutkan studinya di ITB ingin menjadi seperti BJ. Habibie.
Kini Indonesia telah beruntung memiliki seorang sutradara yang bernama Affandi Abdul Rachman. Dan Dengan peranannya itu, Affandi senang bisa menyampaikan pesan 'Man Jadda wa Jada' dari novel terlaris dengan judul yang sama karya Ahmad Fuadi tersebut. itulah yang menjadikan ucapan rasa syukur kepada tuhan karena telah menciptakan seorang penulis yang sangat laris dalam semua tulisan-tulisannya. Ahmad Fuadi, yang selama 37 tahun ini mendapat gelar penulis terlaris. Indonesia kembali mendapat siraman rohani. Akhirnya setelah perjalanan panjang dan segala persiapan mulai dari tulisan novel hingga casting yang berlangsung selama tiga bulan telah mendapatkan hasil yang maksimal meskipun ada sedikit komentar bahwa keenam bintang muda itu kurang mendapat chemistry yang kuat. Dan beruntungnya pula adalah semua itu tertutupi dengan akting ciamik dari aktor dan artis senior yang tidak asing di industri hiburan. Seperti Andhika Pratama, Ikang Fawzi, David Chalik dan Mario Irwinsyah.
Cerita bermula dari Alif (Gazza Zubizareta) yang tinggal di sebuah kampung kecil dipinggir danau Maninjau, dia yang tidak pernah menginjakkan kakinya ke luar tanah Minang harus mengalahkan impiannya memenuhi keinginan sang bunda, Amak (Lulu Tobing) yang menginginkan Alif masuk pesantren di pulau Jawa, dan berharap Alif bisa bermanfaat bagi banyak orang. Seperti bung Hatta. Itulah yang diimpikan dari sang Bunda sampai-sampai sang Bunda memasang bung Hatta dan Buya Hamka. Alif pun mencoba menerima dengan setengah hati, dan menjalani keputusan orangtuanya bersekolah di Pondok Madani, sebuah pesantren di sudut kota Ponorogo, Jawa Timur. Cita-cita Alif dimentahkan oleh sang Bunda. Sebenranya Alif sangat ingin bersekolah di Bandung dan berkuliah di ITB. Karena Alif sangat mengidolakan sosok Habibie. Kepergian Alif ke pulau Jawa memulai petualangannya di pesantren Madani. Alif yang lebih senang menyendiri semakin meremukkan semangatnya karena peraturan yang sangat ketat. Namun seiring berjalannya waktu, alif mulai bersahabat dengan teman sekamarnya, Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura. Berawal dari kebiasaan berkumpul di bawah menara masjid, mereka berenam pun menamakan diri 'Sahibul Menara', alias Pemilik menara.Keenam sahabat ini memiliki impian masing-masing dan bertekad meraihnya. Seperti Alif bertekad dapat mengunjungi Amerika, Baso yang bertekad menghafal 30 Juz Al Quran sebelum lulus
Selain mengangkat pesan moral dalam film ini, sutradara Affandi A Rachman juga menampilkan keindahan panorama di kota Bukit Tinggi dan danau Maninjau, Sumatera Barat. Itulah keunggulan dari sang sutradara agar tontonannya tidak membawakan kesan boring atau membosankan. Pemandangan indah membuat kita menjadikan pikiran kita damai, tenang dan dapat lebih mengenal alam dan seisinya.
Film yang berdurasi kurang lebih 100 menit ini memiliki banyak kandungan ilmu serta pesan-pesan yang sangat berharga. Cermin persahabatan yang membuat kita menjadi salah satu dari semua orang yang paling beruntung jika kita dapat mempertahankan dan menjaga persahabatan. Salah seorang tokoh pernah berkata “membuat dan menghasilkan adalah hal yang sangat gampang, tetapi mempertahankan dan menjaga keadaan agar menjadi lebih dan lebih itulah yang membuat kita terus berjuang dan berusaha”. Dan pesan yang selalu disampaikan adalah 'Man Jadda wa Jada'. Pesan yang dikatakan kepada kepala Indonesia yaitu Iskandar adalah “orang yang berada disamping kamu adalah saudara yang akan menjadi orang terdekat kita. Dan ustadz Salman Ali telah memperagakan samurai runcing yang sudah tidak tajam lagi. Maksud dari pemotongan kayu itu adalah “bukan yang paling tajam yang dapat mematahkan kayu. Tetapi yang paling bersungguh-sungguh itulah yang sebaik-baiknya”. Dan kata yang paling saya ingat adalah kata-kata yang dikatakan oleh Andika Pratama, Jurnalis merubah dunia menjadi kata-kata (Just sweat world with word) dan saat itulah almamater Extrakulikuler jurnalis ada dipundak Alif.
            Baso adalah sahabat terbaik Alif. Dengan adegan yang sangat memberikan sentuhan persahabatan itulah yang dapat menyentuh hati dan perasaan. Ketika Baso harus meninggalkan semua teman-temannya. Karena Baso mendapat beban mengurus neneknya yang ada di kampong halamannya. Baso yang terbebani karena kedua orang tuanya telah meninggalkannya. Tragis dan segala kehidupan yang apa adanya membuat segala perubahan sosok amatir menjadi seseorang yang sangat indah dalam kehidupannya.
            Kejadian yang paling lucu dan menggemaskan adalah ketika keenam orang dan dengan berbagai macam bahasa itu kena hukuman dari sang pengatur yaitu Jaros. Telinga yang dijewer-jewer hingga runtut parallel.
            Kejadian dalam film yang menurut saya sangat menarik dan sangat menyentuh hati saya adalah sosok seorang ayah. Ketika berada di Bus. Yaitu ketika Alif mabuk perjalanan, ayahnya mengambilkan wadah untuk menolong Alif, ketika Alif akan melaksanakan tes, ayahnya menyediakan dan memperbaiki alat tulisnya, dan keharuan ayah ketika melihat pengumuman bahwa Alif telah diterima di pondok. Ayahnya melantangkan ucapan Allahuakbar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BISNIS