bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Rabu, 18 September 2013

Tujuh Belas Agustus, Aku Proklamator









ciptaan : ANDES NIRVANA IMANDIKA            Sorakan itu mengingatkan puluhan tahun yang lalu
Dimana kalbu, runtuh
Akibat pertahanan yang tak kukuh
Menjadikan beratus tahun tertindas, merengkuh
Berjutaan keping darah bergelantung di pohon, di jemari, dimimpi abadi
Segera mereka merengkuh kesakitan
Peluru bedil-bedil menembus bingkai tubuh
Malam kelamnya tak sesak nafas
Surau mereka berkata segalanya tentang mimpi
Mimpi untuk menjadi kupu-kupu
Bukan hanya kepompong yang terpenyet
Hilang bersimpuh  peluru-peluru kaku menggeletakkan tubuh kekar bunga-bunga sukma

Kini, aku tertatih
Dengan segala langkah aku simpuhkan tubuh pada Mu
Tuhan yang kuasa akan akibat cerca harap
Jalan keluar aku proklamirkan apa yang seharusnya ku simpuh
Wanita ku disamping jahitan merah darah bangsa ini
Dan putih tulang yang tercabik dengan segalanya
Dan kini 17 Agustus aku kumandangkan
Tumpah darahku dan segala nasionalisme semua bunga pertiwi

Aku ini yang akan mencumbui penjajah
Dengan segala penggeliatan para melati kasih
Aku kembali bersimpuh

Dan akan selalu padamu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BISNIS