bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Jumat, 25 November 2011

asal mula permainan congklak



Congklak, Traditional Games
Andes Nirvana

Congklak adalah permainan tradisional masyarakat Jawa. Selain di pulau Jawa, permainan ini dikenal juga di daerah lain. Pada zaman dahulu, ketika orang masih terbatas dengan peralatan yang seadanya, dan masih belum ada handphone dan laptop sehingga jelas tidak ada yang menggunakannya. Mereka membuat permainan sederhana yang disebut congklak atau julukan khas dari pulau Jawa adalah Dakon. Dan permainan ini sangat cocok dimainkan oleh anak-anak bahkan remaja wanita. Permainan ini memang lebih identik dimainkan oleh remaja wanita. Karena dari permainan ini, ada pengetahuan yang dapat dipetik dari congklak tadi, yaitu sesuatu berhubungan erat dengan manajemen atau pengelolaan keuangan.
Pada masa lalu (bahkan hingga kini) kaum hawa disadari atau tidak berperanan penting dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Dakon dianggap menjadi sarana pelatihan terhadap pengelolaan atau manajemen keuangan tersebut. Untuk kaum Adam mungkin permainan ini kurang menantang, tidak memerlukan kegiatan otot dan pengerahan tenaga yang lebih banyak. Jadi, barangkali dianggap terlalu lembut. Dan lelaki hanya jika jenuh dan ingin hiburan yang tidak melelahkan  agar dapat menyegarkan pikiran.
Dan pada zaman yang semodern sekarang ini permainan congklak boleh dikatakan tidak ada lagi alias sudah mulai ditinggalkan. Anak-anak putri sekarang lebih tertarik bermain boneka Barbie, melihat sinetron, atau bermain playstation. Dan yang saat ini meledak dalam pikiran remaja-remaja masa kini adalah dunia maya yang selalu meracuni fikiran para generasi muda. Dan permainan dakon barangkali dianggap telah kuno, ketinggalan zaman, atau bahkan dianggap sebagai orang yang masih tradisional.
Permainan congklak adalah permainan yang santai. Bisa dibawa ke mana-mana sesuka hati kita dan senyaman hati kita untuk memainkannya. Kita bisa memainkan congklak ini di pendopo, di pondok sawah dengan hambusan angin yang begitu luar biasa sejuknya, dengan ditemani lambaian dedaunan hijau yang membuat mata dan hati kita taka da kata putus asa untuk menjalani hidup kembali.
Permainan dakon atau congklak ini sangat mudah. Lubang pada papan dakon berjumlah 16 buah. Masing-masing sisi papan dakon terdapat 7 buah lubang dan 2 buah lubang di masing-masing pojokan/ujung papannya. Untuk memainkannya biasanya diperlukan biji-bijian atau semacam batuan kecil mungil yang dapat digenggam erat-erat dan terasa halus untuk diisikan pada lubang-lubang papan dakon tadi.
Untuk permainan dakon yang juga dinamakan congklak itu diperlukan 98 buah biji sawo/batu kerikil. Masing-masing sisi dakon yang memiliki 7 buah lubang itu diisi 7 buah biji untuk masing-masing lubangnya. Jadi, masing-masing pemain memiliki 49 buah biji kecik yang siap dijalankan. Sedangkan lubang di bagian ujung (pojok) dakon dikosongkan untuk menampung sisa biji ketika permainan dijalankan.

Sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com

Gambar ini adalah gambar dua orang yang sedang bermain congklak. Coba Anda semua mengamatinya. Pakaiannya masih pakaian Jawa gaya jadul. Juga model dandanan rambutnya. Belum ada yang bermodel dicat (semir), dikeriting, diblow, dan sebagainya. Gambar atau foto ini diharapkan mampu menggugah kenangan Anda di masa lalu (khususnya generasi tua) yang pernah bersentuhan dengan permainan dakon. Anda mesti ingat bahwa permainan ini sesungguhnya merupakan serpihan kecil dari unsur pembentuk budaya dan karakter bangsa. Sesungguhnya kita bisa memetik banyak manfaat yang kadang kita sendiri tidak menyadarinya. Dengan permainan itu kita telah dilatih untuk terampil, cermat, sportif, jujur, adil, dan akrab dengan orang lain (teman).
Dari permainan ini, selain kita mendapatkan manfaat untuk dapat membagi dan mengatur jalannya uang, masih banyak lagi manfaat dari permainan ini. Contohnya, anak juga akan menjadi lebih kreatif. Karena biasanya permainan tradisioanal tidak memiliki aturan secara tertulis. Tidak seperti bermain monopoli yang harus mengikuti prosedur yang sudah ditentukan sang penciptanya.Biasanya, aturan yang berlaku, selain aturan yang sudah umum digunakan, ditambah dengan aturan yang disesuaikan dengan kesepakatan para pemain. Di sini juga terlihat bahwa para pemain dituntut untuk kreatif menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BISNIS