bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Rabu, 09 November 2011

Mati Ketawa Cara NAZI

 
September ini sebuah buku kumpulan lelucon semasa NAZI berkuasa diterbitkan. Penulisnya, Rudolph Herzog, sutradara dan penulis naskah layar lebar Jerman, tak bermaksud mengocok perut pembaca. Ia cuma ingin mendobrak sejarah tabu Jerman seputar kehidupan Fuhrer (Pemimpin) Jerman Adolf Hitler. Sebuah upaya melepas ketegangan.

Hitler mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa. Begitu melihat Hitler, serentak para pasien memberinya salam: berdiri tegak seraya mengangkat tangan lurus ke muka. Saat ia melewati barisan seorang pria tak memberinya hormat. “Mengapa kamu tidak memberi hormat seperti yang lain?” Hitler menghardik. “ Mein Fuhrer (Pemimpinku), aku ini perawat, aku tidak gila seperti mereka!” jawab pria itu. Kendati, menurut buku baru ini, orang banyak memakai humor itu secara agak terbuka saat membicarakan Hitler dan kaki tangannya di awal Third Reich berkuasa, tapi tentu saja tak ada yang berani terang-terangan melontarkannya.
Sebuah lelucon bisa membuat orang tewas. Seorang pekerja di Berlin bernama Marianne Elise K. dihukum dan dieksekusi pada 1944 lantaran dituduh meremehkan semangat perang dengan melontarkan lelucon seperti ini:
Hitler dan Goring (Hermann Wilhelm Göring, orang kedua di NAZI) berdiri di puncak menara Radio Berlin. Hitler bilang ia ingin melakukan sesuatu guna menghibur warga Berlin. “Mengapa Anda tak meloncat saja ke bawah?” saran Goring.
Seorang kawan Marianne yang mendengar lawakan itu melaporkan ke pihak berwenang. Dan Marianne pun diringkus.
Penulis buku ini, sutradara film dan penulis naskah layar lebar terkemuka Jerman, Rudolph Herzog, tak bermaksud mengocok perut pembaca. Ia hanya ingin mengupas suatu periode di masa NAZI berkuasa dalam perspektif yang berbeda. Ia melihat lelucon pantas dipakai untuk menggambarkan perasaan rakyat yang sesungguhnya ketika itu.
“Lelucon mencerminkan kemarahan, kepura-puraan, dan kegirangan rakyat yang sesungguhnya,” kata Herzog, yang bukunya Heil Hitler, The Pig is Dead yang dipasarkan bulan ini. “Guyonan politik bukanlah bentuk sebuah perlawanan aktif tetapi katup pelampiasan kemarahan rakyat,” tutur pria 33 tahun ini.
Banyak di antara mereka yang sebal dengan Nazi bekerja sebagai pegawai papan atas di pemerintahan dan industri Jerman. Mereka tidak memberontak. Mereka cuma melontarkan lelucon segar:
“Seorang senior NAZI mengunjungi sebuah pabrik. Ia bertanya pada manajer di sana apakah masih ada di antara para pekerja yang mendukung Sosial Demokrat.
“Ya, 80 persen,” si manajer segera menjawab.
“Apakah ada yang mendukung Partai Pusat Katolik?”
“Ya, 20 persen,” manajer merespons.
“Tak adakah di antara kalian yang pengikut Sosialis Nasional?”
“Ya, kami semua NAZI!” Kesombongan para pembesar NAZI merupakan obyek utama dari segala guyonan:
“Göring menempelkan sebuah panah ke deretan medali di jubahnya. Tertulis di panah itu ‘berlanjut hingga ke belakang.’”
Lawakan seperti itu, kata Herzog, dianggap tak mengancam dan menentang NAZI. Herzog lantas membandingkannya dengan humor kelam seputar tiang gantungan yang beredar di kalangan kaum Yahudi pada 1930-an dan di masa perang:
“Dua orang Yahudi tengah bersiap dieksekusi dengan ditembak. Tiba-tiba datang perintah untuk segera menggantung mereka. Seorang terpidana mati itu membisiki kawannya “Kamu lihat, kan? Mereka kehabisan peluru.”
Di kalangan Yahudi, kata Herzog, lelucon seperti itu merupakan sebuah bentuk ekspresi keinginan untuk tetap hidup. “Saya tertawa maka saya masih tetap hidup,” kata Herzog yang bukunya dibuat berdasar catatan kesusateraan kontemporer, catatan harian, dan wawancara dengan 20 orang yang hidup semasa NAZI berkuasa.
Setelah melalui serangkaian proses pengumpulan data itu, sampailah Herzog pada satu kesimpulan: Sejak awal, rakyat Jerman benar-benar mahfum pemerintahnya kejam. Dan negeri itu tak sedang kerasukan “semangat kebrutalan” atau tersihir propaganda gemilang NAZI. “Rakyat yang terhipnotis tak akan membetas lelucon,” kata Herzog.
Lelucon tentang kamp konsentrasi Dachau—-dibuka pada 1933—-memperlihatkan bahwa rakyat tahu sejak awal mereka bisa masuk bui jika bertingkah mengungkapkan opini mereka:
Dua pria bertemu. “Senang melihatmu kembali bebas. Bagaimana rasanya berada di kamp konsentrasi?” tanya sang kawan. “Hebat! Sarapan diantar ke tempat tidur, bisa memilih kopi atau cokelat, dan untuk makan siang kami dapat sup, daging, dan hidangan pencuci mulut. Siang harinya kami bebas bermain, sehabis itu ngopi dan makan kue. Lalu kami tidur sejenak dan menonton film usai makan malam.”
Teman itu tercengang: “Luar biasa! Tapi ceritamu kok berbeda dengan Meyer yang juga ditahan di sana?”
Sambil manggut-manggut dengan sorot mata menerawang pria satunya bilang: “Ya, itulah sebabnya mengapa Meyer ditangkap lagi.”
Buku Herzog ini boleh jadi isyarat mutakhir sebuah perubahan fundamental di kalangan rakyat Jerman dalam menyikapi sejarah tabu mereka selama beberapa dekade: kekejaman NAZI. Seiring dengan wafatnya generasi perang, anak dan cucu mereka memandang masa suram itu secara lebih obyektif. Mendobrak rambu-rambu yang semula dianggap tabu.
Tengok saja pada 2004, sebuah film berjudul Downfall yang mengisahkan detik-detik kejatuhan Hitler, justru memotret sisi humanisme Kanselir Jerman tersebut. Awal tahun ini, spanduk besar swastika terbentang di Berlin selama pemutaran perdana film komedi pertama tentang Hitler—-sesuatu yang mustahil terjadi beberapa tahun silam.
“Setiap generasi baru di Jerman terpikat dengan masa lalu negerinya,” ujar Herzog. “Karena itu kini tak ada lagi hal tabu.” Menurut Herzog, pada 1933 dan 1934, NAZI mengeluarkan aturan yang melarang warga mengkritisi rezim. Kendati di persidangan hasilnya cuma sebatas peringatan atau denda. Pasalnya alkohol kerap dianggap sebagai faktor peringan.
Tapi itu tak berlaku ketika kedigjayaan Bangsa Aria itu mulai melempem. Saat serdadu Panzer dipukul mundur dari Stalingrad dan bom-bom berjatuhan di seantero Jerman menyusul maraknya kampanye dunia internasional menentang sepak terjang Jerman.
“Humor-humor politik berujung pada tiang gantungan. Lelucon berakhir dengan eksekusi,” ujar Herzog. “Lelucon Yahudi terkenal akan ketajamanannya dan karakternya yang menggigit,” ujarnya. “Aku kini merindukan guyonan macam itu.”
“Apa yang akan kamu lakukan setelah perang berakhir?”
“Ah, akhirnya aku jadi juga pergi berlibur. Dan aku berencana berkeliling Jerman yang maha luas ini!”
“Dan apa yang akan kamu lakukan siang harinya?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BISNIS