bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Senin, 07 November 2011

Esai Ketika Cinta Bertasbih 2


Esai Ketika Cinta Bertasbih 2
Film Ketika Cinta Bertasbih 2 adalah film Indonesia yang identik ceritanya berbau kerohanian atau dapat dikatakan sebagai film bergenre religius. Film dengan nuansa religi ini merupakan kutipan atau bentuk dari novel dengan judul sama yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy dan dijadikan film yang disutradarai oleh Chaerul Umam. Film yang memiliki banyak hikmah ini mampu merasuk dalam sanubari masyarakat Indonesia yang haus akan iman dan makhlik sempurna didunia ini dapat luluh dengan apa yang telah ditayangkan dalam film yang bernuansa religi.
Tidak mudah juga mencari Aktor yang tepat untuk menjadi tokoh dalam film ini. Habiburrahman El shirazy yang menjadi sumber perancang juga turun dalam audisi untuk mencari aktor yang akan memainkan filmnya. Usaha yang dilakukan sang sutradara ini benar-benar matang dan sangat memuaskan hasilnya. Menemukan Kholidi Asadik Alam menjadi tokoh Azzam dan memilih Okky Setiana Dewi kembali menjadi tokoh Anna Althafunisa.
Tokoh Azzam yang dibintangi oleh aktor bernama Kholidi Asadik Alam ini bersifat sangat lembut, sopan terhadap orang tuanya serta memegang teguh agama islam. Dengan ilmu yang dia tempuh di Kairo membuatnya semakin tebal akan ilmu agama. Serta tokoh Anna Althafunisa yang diperankan kembali oleh Okky Setiana Dewi dengan sifatnya yang sangat lembut pula. Anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya dan juga berpegang teguh dalam agamanya. Mereka berdua masih menjadi pusat cerita atau sebagai tokoh utama dalam film yang menggambarkan nuansa religi yang sangat dalam.
Didukung skenario penuh konflik, tapi dengan lembut atau tidak kasar dan selalu rendah hati dan sopan santun yang dijunjung tinggi. Bukan konflik emosional yang meledak-ledak. Tetapi lebih kepada konflik seseorang dengan nasibnya dengan kepala dingin dan tetap tawakal. Secara tidak langsung, para penonton diberi contoh bagaimana menghadapi masalah. Dengan cara bagaimana kita menghadapi masalah. Tidak dengan emosional tetapi dengan berusaha dan diserahkan kepada yang kuasa tentunya. Sabar dan selalu bertawakal adalah kunci agar masalah terselesaikan dengan baik itulah yang dicontohkan kepada kita semua dalam film yang berdurasi lumayan lama ini.
Film KCB pertama dan kedua hamper sama. Dan aktornya masih tetap. Hanya saja, latar tempatnya yang berubah. KCB pertama kebanyakan latar tempatnya berada di Mesir. Beda dengan KCB yang kedua, kebanyakan dan bahkan terpusat hanya di Indonesia saja. Tidak lagi ada di Mesir. Tetapi, adegan-adegan yang ada dalam film tersebut mengharukan, sedih, bangga, masalah-masalah yang menimpa, dan tak ketinggalan lagi yaitu tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta. Cinta yang tak beradegan berlebihan, tetapi merasuk dalam sanubari yang paling dalam. Intinya, cinta yang sesempurnanya cinta. Dan menunjukkan kepada penonton bahwa cinta memang suci dan jodoh takkan lari jauh dari kita jika kita tidak mempermainkan cinta suci.
Kisah di film kedua memang berangkat dari Azzam yang dilanda kecewa karena ditinggal menikah Anna Athafunnisa (Oki Setiana Dewi) yang dinikahi Furqon (Andi Arsyil Rahman). Dirinya pun bertemu dengan Vivi (Asmirandah), dokter cantik yang baru saja lulus dari Universitas Diponegoro.

Dan para penonton diajak untuk merenung bagaimana ketika kita mendapat masalah seperti yang dialami oleh Azzam. Ketika ia akan menikah dengan Vivi, lalu Azzam dan Ibunya kecelakaan dan Ibunya meninggal dunia? Apa yang akan kita rasakan ketika kita juga mengalami hal yang sama dengan adegan tersebut? Apa para aktor dalam film tersebut dapat mempengaruhi hati kita? Mungkin hanya orang yang berhati keras yang tidak mengeluarkan air matanya ketika melihat adegan yang benar-benar sukses dan benar-benar merasuk dalam semua bagian otak yang akan terisi penuh dengan air mata. Dan menghabiskan air mata kita ketika kita melihat klimaks dari adegan yang mendapatkan musibah yang bertubi-tubi. Tetapi apa yang dilakukan Azzam? Dia tetap tabah, sabar dan tetap berserah diri kepada Yang Maha Esa. Serta tetap menjunjung tinggi ketegaran hidupnya bersama musibah-musibah yang diberikan Tuhan kepadanya. Kita juga dapat melihat bagaimana karakter-karakter para tokoh yang benar-benar pas dengan adegannya. Dan karakter yang benar-benar muncul. Aura-aura yang Nampak sangat begitu sempurna dari semua tokoh. Mulai dari ibu Azzam yang benar-benar polos dan mencerminkan wanita desa yang lugu dan berpegang teguh pada agama. Serta Husna yang selalu patuh terhadap orang tuanya serta kakak tercintanya, Azzam. Dan Azzam yang menunjukkan kesopanan dan ketabahan, yang pada saat adegan ketika Azzam sampai dirumahnya dan berlutut dihadapan ibunya. Benar-benar kejadian yang mengharukan. Dan saat ibunya meninggal itulah yang benar-benar menguras air mata kita dan klimaks yang benar-benar dapat memasuki alam bawah sadar kita. Sehingga kita dapat merasakan betapa hancurnya Azzam ketika itu.
Tak hanya aktor yang teraudisi saja yang penampilannya sangat cocok dengan karakternya. Tetapi juga dengan adanya perpaduan aktor yang sudah berpengalaman dan sudah menjadi senior aktor yang benar-benar hebat dalam berakting. Yakni H. Deddy Mizwar yang memerankan ayah Anna dengan sangat baik dan sangat cocok dengan karakter yang diperankannya.
Menurut saya, acungan seribu jempol, bahkan berjuta-juta jempol untuk film Ketika Cinta Bertasbih ini. Memang pantas para Aktor, sutradara dan crew yang mengemas film tersebut dengan sebaik-baiknya. Karena selain sebagai hiburan, film ini juga memberikan ilmu agama yang benar-benar baik dan terkemas dengan paduan yang pas. Komposisi yang benar-benar hebat. Agar para penonton juga merenungkan serta dapat mengambil perilaku serta sikap yang baik dan dapat mempertebal imannya kepada Tuhan.
Memang film seperti inilah yang dibutuhkan oleh semua masyarakat, agar dapat meniru perilaku yang benar-benar baik serta dapat mencontoh hal-hal yang baik dari segi agama atau dari segi yang lainnya. Dan memang sangatlah pas komposisi dari film ini, keindahan, keserasian, keagamaan, dan dengan sejuta manfaat yang sangat banyak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BISNIS