bisnis

hate the betrayalman angry at the betrayal

badai dengan sejuta rasa pahit. Derai diatas derita yang bergelumit. Tangan menengadah seakan tak satupun dosa jatuh genit. Dan kelicikan sang iblis kembali menggerogot dengan sengit.

Tuhan menciptakan makhluk luar biasa. Dengan segala rasa yang tak kuasa. Tetapi tanpa sadar dia berkata. Bahwa dia adalah Tuhan didunia. Apa hak kamu untuk mengaku dengan rasa.

Hidup sempit seperti raga tak bertulang belakang. Dengan sengajanya kau menindas kedalam hutan belaka. Dengan sejuta ranting dalam jelaga. Serta duri dan jeruji yang menusuk raga.

Srigala kembali hadir. Berbulu domba dengan sidang tanpa dosa. Tidur saat keperluan menimpa. Tanpa sadar menerima gaji buta. Dan kau tetap kau sang Iblis. Penyibak rasa haus dahaga. Dengan sejuta tangan kau renggut hak-hak rakyat negara. Dan tanpa kau sadari kau memang Manusia pemakan Otak Manusia. Manusia tanpa kelamin yang memang harus diinjak diatas meja hijau.

Dan takkan ada lagi sidang dalam mimpi.
Takkan ada lagi rapat dengan ditemani tontonan nafsu tak sudi.
Dan takkan ada lagi penggerogot jiwa dan raga diri.

BIsNIS

Rabu, 09 November 2011

Ketika Tokoh Parpol Berjoget dan Bernyanyi

Mungkin sekilas judul tulisan ini terkesan menjiplak judul Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik). Tapi sebetulnya tulisan ini tak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan novel tersebut. Hanya saja kebetulan Kang Abik lebih duluan membuat judul yang seperti itu dan kebetulan juga novelnya terkenal dan laris, sehingga tulisan-tulisan yang di awal judulnya ada kata ”Ketika” seakan-akan demam dan latah mengikuti judul novel tersebut.

Langsung saja biar tidak bertele-tele kita masuki maksud sebenarnya dari tulisan ini.

Seperti anda ketahui, PEMILU sebentar lagi menjelang. Dalam minggu-minggu terakhir ini juga sudah dimulai kampanye terbuka. Paling tinggal beberapa hari lagi waktu pemilihan calon legislatif akan dijelang. Tentunya banyak sekali hal-hal yang unik, menarik, bahkan menjengkelkan dari kampanye-kampanye yang kini sedang digelar.

Subuh tadi aku tanpa sengaja menonton berita di televisi mengenai kampanye-kampanye yang dimaksud. Sebelum-sebelumnya di jalanan kita lihat pemandangan yang begitu semarak (atau mungkin memuakkan), karena begitu banyaknya para foto model dadakan yang fotonya nampang di jalanan. Kini pada saat kampanye terbuka, kita juga bisa menyaksikan banyak para penyanyi dan penari dadakan menampilkan atraksi dan kebolehannya di atas panggung kampanye.

Sepertinya, pamandangan yang sama juga telah ada pada PEMILU-PEMILU sebelumnya. Dan pada PEMILU kali ini, pemandangan itu dapat kita lihat lagi, bahkan mungkin lebih banyak lagi para penyanyi dan penari dadakan yang dimaksud, yang tak lain adalah para tokoh Partai Politik yang sedang berkampanye tersebut. Apalagi Presiden Indonesia yang terpilih pada PILPRES 2004 juga akhir-akhir ini semakin menunjukkan debut karirnya sebagai penyanyi. Sehingga tokoh-tokoh partai politik yang lain juga mungkin iri melihat karir Presiden Indonesia kini yang popularitasnya sebagai penyanyi semakin menanjak saja akhir-akhir ini.

Mungkin karena ingin juga memperlihatkan kebolehan dalam menyanyi, maka kini para tokoh partai politik yang lain semakin banyak yang mengikuti jejak karir presiden kita sebagai penyanyi, walaupun hanya sebatas di atas panggung kampanye. Kalau presiden kita jangan ditanya lagi, karirnya sebagai penyanyi sudah diakui oleh publik negeri ini, albumnya mungkin sudah terjual melebihi rekor Grup Band ngetop semacam Peterpan, Sheila on 7, dan Padi.

Pada PEMILU kali ini, kiranya rakyat Indonesia cukup terpuaskan, karena bisa menyaksikan secara gratis kebolehan Sang Presiden melantunkan suaranya di atas Panggung Musik (eh...salah, maksudnya Panggung Kampanye).

Mungkin bisa jadi keberhasilan Sang Presiden kita memenangkan PILPRES lima tahun silam karena ia bisa menyanyi. Karena itulah, para calon legislatif, tokoh parpol, dan tokoh-tokoh yang sudah percaya diri menyatakan sebagai calon presiden juga dengan bersemangatnya menunjukkan kebolehan menyanyi sebagaimana Sang Presiden kita. Sayangnya, tidak semuanya bisa menyanyi, paling hanya beberapa.

Berdasarkan pantauanku, yang bisa menyanyi antara lain Ketua MPR yang sekarang (kulihat beritanya tadi shubuh). Yang tak bisa menyanyi adalah Ketua Dewan Pembina sekaligus calon presiden dari partai yang lambangnya kepala burung garuda berwarna emas. Nah, calon presiden dari partai tersebut karena tak bisa menyanyi, maka beliau menutupinya dengan menari (lebih tepatnya adalah berjoget). Sayangnya, joget yang dipertunjukkan bukanlah joget goyang ngebor, goyang gergaji, goyang patah-patah, ataupun goyang ngecor. Entah joget apakah yang dipertunjukkannya itu. Yang pasti, pertunjukannya kurang sedap dipandang mata. Sehingga jangan harap yang menyaksikannya akan mendapatkan kepuasan seperti halnya menyaksikan aksi joget dan goyang para penyanyi dangdut yang kadang menggoyah iman.

Untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU), sepertinya pada PEMILU-PEMILU yang akan datang perlu ditambah lagi persyaratan untuk calon legislatif (caleg) dan calon presiden (capres), yaitu harus bisa menyanyi dan menari (berjoget). Kalau syaratnya harus bisa menyanyi dan menari (berjoget), aku yakin caleg-caleg pada PEMILU yang akan datang takkan sebanyak yang sekarang. Selain itu, yang mencalonkan sebagai presiden pun akan berpikir dua kali mencalonkan dirinya.

Kalau para caleg dan capres yang tidak bisa menyanyi dan menari tetap nekat maju, maka kemungkinan mereka akan kalah pada pertarungan di PEMILU. Kalau mereka masih tetap nekat, maka mereka juga harus sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari belajar bernyanyi dan berjoget (menari), mungkin bisa melalui les privat menyanyi dan menari, ataupun sekalian saja ikut ajang pencarian bakat semacam Indonesian Idol, AFI, ataupun KDI. Siapa tahu bisa menang pada ajang pencarian bakat tersebut, lumayanlah buat nambah modal untuk jadi caleg ataupun capres.

Kalau syaratnya harus bisa menyanyi dan menari, kemungkinan besar yang menjadi caleg dan capres pada PEMILU yang akan datang adalah para penyanyi dan penari. Sekalian saja, partai politiknya pun bukan seperti yang sekarang, melainkan partai politiknya adalah penjelmaan dari grup musik semacam Slank, Dewa 19, Peterpan, Soneta Group, dan semacamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BISNIS